Cara Mencuci Muka yang Benar untuk Mencegah Jerawat

Cara Mencuci Muka yang Benar untuk Mencegah Jerawat

Sudah rajin cuci muka, tapi kulit malah terasa ketarik atau jerawat tetap saja muncul? Bisa jadi masalahnya bukan di seberapa sering kamu mencuci muka, melainkan di caranya. Kuncinya sederhana: lembut, tidak menggosok, dan tidak berlebihan. Yuk, pahami dulu kenapa cara mencuci muka berpengaruh pada jerawat, lalu lanjut ke langkah-langkahnya.

Kenapa Cara Mencuci Muka Berpengaruh pada Jerawat?

Mencuci muka membantu mengangkat keringat, minyak, dan kotoran dari kulit. Namun cara yang keliru, seperti terlalu sering, terlalu keras, atau memakai pembersih yang tidak cocok, justru bisa mengiritasi kulit dan memperburuk jerawat. Menurut American Academy of Dermatology (AAD), mencuci muka sebaiknya dilakukan dengan lembut.

Tiga hal yang perlu dijaga:

  • Bersih tanpa menggosok, karena menggosok bisa mengiritasi kulit.
  • Lembut tanpa membuat kulit ketarik, supaya kulit tidak kering dan perih.
  • Teratur tanpa berlebihan, karena mencuci terlalu sering juga bisa menyebabkan iritasi.

Perlu diingat, mencuci muka bukan satu-satunya cara mencegah jerawat. Hormon dan genetik juga berperan. Cara mencuci muka yang benar membantu mengurangi risiko iritasi dan menjaga kulit tetap bersih, tetapi tidak bisa menjamin jerawat tidak muncul.

Kapan dan Berapa Kali Sehari Kamu Perlu Mencuci Muka?

Alodokter juga menyarankan pola yang sama: pagi, malam sebelum tidur, dan saat berkeringat.

Langkah Mencuci Muka yang Benar

Ada lima langkah sederhana, mulai dari menyiapkan wajah sampai langkah sesudah mencuci. Kalau kamu memakai makeup, mulai dari langkah pertama.

1. Bersihkan Makeup Lebih Dulu (Bila Memakai)

Sabun wajah saja belum tentu mengangkat riasan. Alodokter menyarankan double cleansing, yaitu memakai pembersih makeup lebih dulu sebelum mencuci muka dengan sabun wajah. AAD juga menyarankan membersihkan seluruh makeup, termasuk makeup mata, sebelum tidur, memakai pembersih bebas minyak, lalu mencuci muka dengan lembut tanpa menggosok.

2. Basahi Wajah dengan Air Suam-Suam Kuku

AAD menyarankan air suam-suam kuku untuk membasahi dan membilas wajah. Alodokter mengingatkan bahwa air panas dapat membuat kulit kering. Jadi pilih suhu yang terasa nyaman dan hindari air panas.

3. Pilih Pembersih yang Tepat dan Pakai dengan Ujung Jari

Pilih pembersih yang lembut, tidak abrasif, dan bebas alkohol. Alodokter menambahkan beberapa hal:

  • Pilih yang tanpa pewangi.
  • Jangan memakai sabun badan atau sabun yang bukan untuk wajah.
  • Untuk kulit berminyak atau berjerawat, pembersih berbahan salicylic acid bisa dipertimbangkan. Ini pilihan, bukan keharusan.

Aplikasikan pembersih dengan ujung jari. AAD menyebut washcloth, spons, dan alat lain bisa mengiritasi kulit.

4. Pijat Lembut Sekitar 30 Detik, Lalu Bilas Bersih

Menurut Alodokter, mencuci muka cukup sekitar 30 detik dan tanpa menggosok kasar. AAD menyarankan untuk menahan diri dari menyikat atau scrub kulit, karena justru mengiritasi. Setelah itu, bilas sampai bersih dengan air suam-suam kuku.

5. Keringkan dengan Menepuk, Lalu Lanjutkan Perawatan

Keringkan wajah dengan menepuk-nepuk memakai handuk lembut yang bersih, jangan digosok. Alodokter juga menyarankan agar tidak membiarkan air mengering sendiri di wajah dan tidak memakai handuk tangan yang menggantung di wastafel.

Setelah itu, lanjutkan dengan pelembap bila kulit terasa kering. Alodokter menyebut kamu juga bisa melanjutkan dengan serum, essence, atau sunscreen sesuai rutinitasmu.

Kesalahan Umum saat Mencuci Muka

Beberapa kebiasaan yang sering membuat kulit iritasi:

  • Menggosok terlalu kasar atau terlalu lama.
  • Memakai washcloth atau spons untuk menggosok wajah.
  • Memakai air panas, yang bisa membuat kulit kering.
  • Mencuci terlalu sering dari yang disarankan.
  • Memakai sabun badan atau sabun yang bukan untuk wajah.
  • Hanya mengandalkan sabun untuk mengangkat makeup.
  • Mengeringkan wajah dengan menggosok.

Menyesuaikan Cara Mencuci Muka dengan Jenis Kulit

Dasar caranya sama untuk semua jenis kulit, tetapi pilihan produk bisa berbeda.

Kulit Berjerawat atau Berminyak

Pakai pembersih yang lembut dan jangan scrub. AAD menyarankan menghindari toner dan eksfoliasi yang bisa mengeringkan kulit saat jerawat sedang dirawat. Alodokter menyebut eksfoliasi bisa dilakukan beberapa kali seminggu, jadi anggap eksfoliasi sebagai pilihan, bukan kewajiban, dan konsultasikan dulu ke dokter kulit bila kamu ingin mencobanya.

Kulit Sensitif atau Kering

Pilih pembersih yang sangat lembut. Bila kamu memiliki kondisi seperti eksim atau rosacea, konsultasikan ke dokter kulit untuk cara mencuci muka yang sesuai.

Kapan Perlu ke Dokter Kulit?

Periksakan diri ke dokter kulit bila:

  • Jerawat tidak membaik meski kamu merawat kulit dengan konsisten.
  • Kulit tetap terasa perih atau sangat kering meski sudah memakai pembersih lembut.
  • Kamu memiliki kondisi kulit seperti eksim atau rosacea.

Praktik: Mencuci Muka dengan Nurilab 3X Defense Gentle Cleansing Gel

Sebagai contoh, berikut penerapan langkah-langkah di atas memakai Nurilab 3X Defense Gentle Cleansing Gel, pembersih wajah yang dikembangkan bersama dermatolog Korea dan Indonesia. Produk ini hanya contoh dan tidak menggantikan saran dokter.

Menurut halaman produk Nurilab, pembersih ini berpH rendah dengan busa minimal, tanpa alkohol, SLS, paraben, pewangi buatan, dan pewarna buatan. Nurilab juga menyebut produk ini non-comedogenic dan non-acnegenic. Kandungannya antara lain centella asiatica 5%, ekstrak teh hijau 3%, dan ekstrak yam bean 1%. Daftar bahan lengkapnya juga memuat niacinamide, panthenol, ceramide NP, tea tree leaf oil, glycolic acid, papain, dan bromelain, jadi baca daftar bahan lengkap di halaman produk dan coba dulu di area kecil kulit, terutama bila kulitmu sensitif.

Cara pakainya sesuai halaman produk:

  1. Buka tutup dan keluarkan formulanya.
  2. Aplikasikan pada wajah yang sudah dibasahi.
  3. Pijat dengan lembut.
  4. Bilas sampai bersih, lalu keringkan.
  5. Hindari area mata dan mulut.

Menurut Nurilab, produk ini juga bisa dipakai sebagai masker, didiamkan 30 sampai 60 detik lalu dibilas, dengan rekomendasi pemakaian 2 kali seminggu. Anggap ini opsi tambahan, bukan keharusan.

Dalam uji konsumen Nurilab pada 28 subjek berkulit berjerawat selama 7 hari, 82% setuju kulit tampak lebih cerah, 86% setuju produk ini menenangkan peradangan kulit, dan 96% setuju tampilan minyak di wajah berkurang. Nurilab juga melaporkan uji terhadap P. acnes di laboratorium terakreditasi pihak ketiga selama 60 detik. Hasil dapat berbeda pada tiap orang.

Setelah mencuci muka, lanjutkan dengan pelembap seperti 5% Peptamide AI™ Acne Calming Moisturizer, yang menurut Nurilab non-comedogenic dan non-acnegenic. Di pagi hari, tutup dengan sunscreen seperti Hy Glow, Bye UV! atau Hy Matte, Bye UV!.

Produk Nurilab tersedia di nurilab.id, Shopee Mall, TikTok Shop, dan Lazada Mall. Setiap pembelian disertai akses konsultasi dengan dermatolog Nurilab. Kalau jerawat atau iritasimu tidak membaik, konsultasikan ke dokter kulit.

Disclaimer

Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan atau saran dokter. Klaim hasil produk Nurilab berasal dari uji konsumen dan uji laboratorium Nurilab pada jumlah subjek terbatas, sesuai halaman produk resmi saat artikel ini disusun, dan hasil dapat berbeda pada setiap orang. Mencuci muka dengan benar membantu menjaga kebersihan kulit tetapi tidak menjamin jerawat tidak muncul.

Kenali Jenis-Jenis Bakteri yang Menyebabkan Jerawat

Kenali Jenis-Jenis Bakteri yang Menyebabkan Jerawat

Sudah rajin cuci muka, tapi jerawat tetap saja muncul. Wajar kalau kamu mulai bertanya, apakah ada bakteri yang harus dibasmi? Jawabannya: bakteri seperti P. acnes (kini disebut Cutibacterium acnes) memang berperan dalam jerawat, tetapi bakteri ini hidup alami di kulit dan bukan satu-satunya penyebab. Yuk, kenali dulu peran bakteri dalam jerawat, lalu lanjut ke jenisnya dan cara menanganinya.

Apakah Bakteri Penyebab Jerawat?

Bakteri memang berperan dalam jerawat, tetapi bukan penyebab satu-satunya. Menurut Alodokter, jerawat berawal dari pori yang tersumbat minyak dan sel kulit mati, lalu bakteri P. acnes dapat berkembang dan memicu jerawat yang merah, bengkak, atau bernanah.

American Academy of Dermatology (AAD) juga menegaskan bahwa jerawat muncul ketika pori tersumbat, dan hormon serta faktor keluarga ikut berperan. Jadi ada beberapa faktor yang bekerja bersama:

  • Pori tersumbat oleh minyak dan sel kulit mati.
  • Hormon dan genetik, yang memengaruhi seberapa mudah kulit berjerawat.
  • Bakteri yang berkembang di pori yang sudah tersumbat.

Jenis Bakteri yang Berkaitan dengan Jerawat

Kulit dihuni banyak mikroba, dan sebagian besar tidak berbahaya. Berikut tiga bakteri yang paling sering dikaitkan dengan jerawat.

Cutibacterium acnes (P. acnes)

Ini adalah bakteri yang hidup alami di kulit dan paling sering dikaitkan dengan jerawat. Dulu namanya Propionibacterium acnes, sehingga banyak yang masih menyebutnya P. acnes. Di pori yang tersumbat minyak dan sel kulit mati, bakteri ini dapat berkembang dan memicu peradangan. Penjelasan ini sejalan dengan tinjauan sistematis di Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology (2025) tentang hubungan jerawat dan mikrobioma kulit.

Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus

Selain C. acnes, tinjauan tersebut menemukan delapan studi yang mengaitkan C. acnes, S. aureus, dan S. epidermidis dengan jerawat. Kaitannya bisa berupa pertumbuhan berlebih, peran sebagai penghuni normal kulit, atau ketidakseimbangan mikroba (dysbiosis).

Perlu diingat, ini bentuk keterkaitan, bukan bukti bahwa satu bakteri pasti menyebabkan jerawatmu. Peran tiap bakteri, termasuk S. epidermidis, masih terus diteliti.

Bukan Semua Jerawat Berasal dari Bakteri

Beberapa bintil di wajah tampak seperti jerawat tetapi penyebabnya berbeda. Contohnya dermatitis perioral, yaitu ruam kemerahan di sekitar mulut dengan bintil kecil mirip jerawat yang terasa gatal atau perih. Menurut Alodokter, kondisi ini tidak menular dan bisa dipicu oleh kosmetik atau obat tertentu. Kalau bintil di wajahmu tidak membaik dengan perawatan jerawat biasa, periksakan ke dokter kulit.

Apa yang Membuat Jerawat Mudah Muncul?

Bakteri penyebab jerawat sudah ada di kulit semua orang, jadi pertanyaannya bukan kenapa kamu “terpapar”, melainkan apa yang membuat jerawat muncul. Alodokter juga menyebut jerawat tidak menular.

Berdasarkan AAD dan Alodokter, beberapa faktor yang berperan:

  • Hormon. Saat pubertas, hormon androgen memperbesar kelenjar minyak sehingga produksi minyak meningkat dan pori lebih mudah tersumbat.
  • Genetik. Punya orang tua atau kerabat dengan jerawat dalam meningkatkan risikomu.
  • Produk berminyak. Makeup, skincare, dan produk rambut berminyak seperti pomade dapat memperburuk jerawat.
  • Pola hidup. Kurang tidur dan makanan tertentu dapat memperburuk jerawat.
  • Stres. Stres tidak menyebabkan jerawat, tetapi dapat memperburuknya.
  • Gesekan dan polusi. Alodokter menyebut gesekan dari topi atau pakaian ketat dan polusi sebagai pemicu.

Jerawat yang Dikaitkan dengan Bakteri

Peradangan yang melibatkan bakteri biasanya muncul dalam bentuk jerawat yang meradang:

  • Jerawat merah dan bengkak, yang sering terasa nyeri saat disentuh.
  • Jerawat bernanah, yaitu benjolan merah dengan bagian putih berisi nanah.
  • Jerawat dalam, berupa benjolan keras di bawah kulit. Penjelasannya bisa kamu baca di panduan AAD tentang jerawat dalam.

Komedo, yaitu sumbatan tanpa peradangan yang jelas, bisa muncul lebih awal sebelum jerawat meradang. Namun tidak semua komedo berkembang menjadi jerawat meradang.

Cara Mengatasi Jerawat yang Berkaitan dengan Bakteri

Tujuan perawatan bukan membasmi semua bakteri, karena bakteri hidup alami di kulit. Tujuannya meredakan peradangan dan mencegah pori tersumbat tanpa merusak kulit.

Obat dan Bahan yang Umum Dipakai

Menurut AAD, beberapa bahan yang umum untuk jerawat:

  • Benzoyl peroxide: mengurangi bakteri P. acnes.
  • Retinoid seperti adapalene: membantu membuka pori yang tersumbat dan mengurangi minyak.
  • Salicylic acid: membantu meredakan peradangan dan membuka pori.

AAD menyarankan memakai 1 atau 2 produk dengan bahan aktif berbeda, dan memberi waktu minimal 4 minggu sebelum menilai hasilnya. Dalam tinjauan JEADV 2025, benzoyl peroxide menjadi satu-satunya perawatan yang secara signifikan mengubah keragaman mikroba kulit dalam analisis gabungan studi.

Untuk jerawat yang parah, banyak, atau berulang, dokter bisa meresepkan obat yang lebih kuat. Alodokter menyebut antibiotik oral dan isotretinoin sebagai contoh, yang hanya boleh dipakai atas anjuran dokter.

Cara Merawat Kulit Sehari-Hari

Kebiasaan sederhana ini membantu menjaga kulit tetap seimbang:

  • Cuci muka dua kali sehari dan setelah berkeringat dengan pembersih yang lembut, seperti saran AAD.
  • Jangan scrub atau menggosok kulit terlalu keras.
  • Pilih produk non-comedogenic yang tidak menyumbat pori.
  • Jangan memencet jerawat, karena memperlambat penyembuhan dan meningkatkan risiko bekas.
  • Pakai pelembap dan sunscreen setiap hari.
  • Bersihkan sarung bantal dan makeup secara rutin.

Hati-Hati dengan Antibakteri Berlebihan dan Antibiotik

Jangan membeli antibiotik sendiri tanpa resep dokter. Memakai terlalu banyak produk atau produk yang terlalu keras juga bisa mengiritasi kulit, menurut AAD. Kalau jerawatmu meradang, nyeri, atau tidak membaik, konsultasikan ke dokter kulit.

Kapan Perlu ke Dokter Kulit?

Segera periksakan diri bila:

  • Jerawat tidak membaik dengan perawatan sederhana.
  • Jerawat berupa benjolan dalam atau nodul.
  • Jerawat sering meradang atau mengganggu aktivitas.
  • Jerawat parah muncul tiba-tiba pada usia dewasa, atau disertai gangguan menstruasi dan pertumbuhan rambut berlebih, karena menurut Alodokter ini bisa menandakan masalah kesehatan lain.

Cara Memilih Skincare untuk Kulit Berjerawat: Checklist dan Contoh dari Nurilab

Skincare tidak perlu “membunuh semua bakteri”. Pilih yang lembut, tidak menyumbat pori, dan sesuai kondisi kulitmu. Berikut checklist sederhana, lengkap dengan contoh produk Nurilab sebagai pendamping rutinitas, bukan pengganti dokter. Semua klaim berasal dari halaman produk resmi Nurilab dan hasilnya dapat berbeda pada tiap orang.

1. Pembersih yang lembut. Pembersih sebaiknya tidak membuat kulit terasa ketarik. Contohnya 3X Defense Gentle Cleansing Gel. Menurut Nurilab, produk ini mengandung centella asiatica 5% dan ekstrak teh hijau 3%, serta telah diuji terhadap P. acnes di laboratorium terakreditasi pihak ketiga selama 60 detik. Dalam uji konsumen Nurilab pada 28 subjek selama 7 hari, 86% setuju produk ini menenangkan peradangan kulit.

2. Perawatan titik untuk jerawat yang sudah muncul. Cari produk yang dioles langsung pada jerawat. Contohnya Acne Conclearing™ Spot Drying Lotion, yang menurut Nurilab mengandung salicylic acid 2%, sulfur 1%, zinc oxide + centella asiatica. Dalam uji 14 hari dengan pemakaian dua kali sehari, Nurilab melaporkan penurunan jumlah papula dan pustula, bukan jerawat dalam.

3. Pelembap non-comedogenic. Kulit berjerawat tetap perlu pelembap agar tidak kering dan iritasi. Contohnya 5% Peptamide AI™ Acne Calming Moisturizer. Menurut Nurilab, produk ini non-comedogenic dan non-acnegenic, dan telah diuji penghambatan terhadap P. acnes di laboratorium terakreditasi pihak ketiga. Dalam uji klinis Nurilab pada 10 subjek, skin barrier meningkat hingga 52% dan kelembapan terjaga hingga 72 jam.

4. Sunscreen non-comedogenic. Contohnya Hy Glow, Bye UV! dengan SPF 50 PA++++. Menurut Nurilab, produk ini mengandung ekstrak teh hijau 3% dan centella asiatica 5%. Untuk kulit berminyak dan berjerawat, tersedia varian Hy Matte, Bye UV!.

Setiap pembelian produk Nurilab disertai akses konsultasi dengan dermatolog, dan produknya tersedia di nurilab.id, Shopee Mall, TikTok Shop, serta Lazada Mall. Kalau jerawatmu tidak membaik, periksakan ke dokter kulit.

Disclaimer

Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan atau saran dokter. Klaim hasil produk Nurilab berasal dari uji internal dan uji laboratorium Nurilab pada jumlah subjek terbatas, sesuai halaman produk resmi saat artikel ini disusun, dan hasil dapat berbeda pada setiap orang. Produk Nurilab tidak menggantikan pengobatan medis dan tidak ditujukan untuk membasmi seluruh bakteri di kulit. Bila kamu sedang hamil, menyusui, memiliki kulit sangat sensitif, atau memakai obat dari dokter, konsultasikan dulu sebelum mencoba produk baru, dan hentikan pemakaian jika muncul iritasi.

Cara Memilih Shade Concealer yang Sesuai untuk Kulit

Cara Memilih Shade Concealer yang Sesuai untuk Kulit

Sudah beli concealer, tapi hasilnya malah tampak abu-abu atau terlihat jelas bedanya dengan warna kulit? Masalahnya biasanya bukan di produk, melainkan di shade yang kurang pas. Kuncinya ada pada mengenali warna kulit dan undertone-mu, lalu mengujinya sebelum membeli. Yuk, mulai dari memahami kenapa salah shade bikin hasilnya tidak natural.

Kenapa Salah Shade Concealer Bikin Hasilnya Tampak Tidak Natural?

Concealer yang tidak sesuai undertone membuat kulit tampak abu-abu, lebih gelap, atau terlalu putih dan mencolok. Menurut Alodokter, ketidakcocokan ini terjadi karena shade tidak selaras dengan rona alami di bawah permukaan kulit. Jadi, ada dua hal yang perlu dicocokkan: warna kulit (seberapa terang atau gelap) dan undertone.

Beberapa tanda kamu salah shade:

  • Tampak abu-abu atau pucat setelah diaplikasikan.
  • Ada batas warna yang jelas di sekitar jerawat atau area yang ditutup.
  • Warnanya berubah beberapa menit setelah dipakai.

Kenali Dulu Skin Tone dan Undertone Kulitmu

Dua istilah ini sering tertukar, padahal fungsinya berbeda. Skin tone adalah warna di permukaan kulit, sedangkan undertone adalah rona di bawahnya. Keduanya perlu dikenali sebelum membeli concealer.

Beda Skin Tone dan Undertone

Skin tone adalah warna lapisan kulit paling atas dan bisa berubah karena paparan matahari. Undertone bersifat lebih tetap karena dipengaruhi faktor genetik. Menurut Alodokter, dua orang yang sama-sama berkulit cerah bisa punya undertone yang berbeda, begitu juga pada kulit yang lebih gelap.

Hal ini juga dijelaskan oleh Good News From Indonesia: skin tone bisa berubah, sedangkan undertone cenderung tetap.

Tiga Jenis Undertone: Warm, Cool, Neutral

  • Warm: cenderung kekuningan atau keemasan. Menurut Alodokter, undertone ini umum dimiliki orang di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
  • Cool: cenderung pink, kemerahan, atau kebiruan.
  • Neutral: berada di antara warm dan cool, dan bisa dimiliki siapa saja.

Ini hanya kecenderungan umum, bukan aturan pasti untuk semua orang.

Cara Mengecek Undertone di Rumah

  1. Lihat warna pembuluh darah di pergelangan tangan atau pelipis. Kehijauan menandakan warm, biru atau ungu menandakan cool, dan sulit ditentukan menandakan neutral.
  2. Coba perhiasan. Kulit tampak lebih cerah dengan emas menandakan warm, dengan perak menandakan cool. Kalau cocok dengan keduanya, kemungkinan neutral.
  3. Coba baju putih. Menurut Alodokter, kulit yang tampak kusam saat memakai putih kemungkinan warm.
  4. Lihat warna kulit di belakang telinga. Menurut Good News From Indonesia, kemerahan atau pink menandakan cool, kekuningan menandakan warm.

Gabungkan beberapa cara supaya hasilnya lebih tepat, karena satu metode saja bisa menyesatkan.

Cara Memilih Shade Concealer Sesuai Kebutuhanmu

Setelah tahu undertone, pilih shade sesuai tujuan pemakaian. Concealer untuk menutup jerawat tidak selalu sama dengan untuk highlight.

Untuk Menutup Jerawat dan Bekasnya

Pilih shade yang paling mendekati warna kulit dan undertone-mu, karena tujuannya agar menyatu dengan kulit. Sebagian orang juga memakai color corrector sebelum concealer. Menurut Popmama, warna hijau biasa dipakai untuk menyamarkan kemerahan atau jerawat, sedangkan oranye atau peach bisa membantu menyamarkan bekas jerawat. Setelah itu, tutup dengan concealer yang sewarna dengan undertone kulit.

Ini tips riasan yang umum, bukan keharusan. Kalau concealer yang kamu pakai sudah cocok dan menutup dengan baik, color corrector tidak wajib.

Untuk Area Lain atau Highlight

Untuk highlight, sebagian orang memilih shade 2 sampai 3 tingkat lebih terang dari warna kulit, lalu menaruhnya di bawah mata, tengah hidung, dan dahi. Tips ini untuk memberi dimensi pada riasan. Untuk menutup jerawat, tetap pilih shade yang mendekati warna kulitmu.

Tips Mencoba Shade Sebelum Membeli

Shade yang tampak pas di kemasan belum tentu pas di kulit. Coba langkah berikut:

  1. Oleskan sedikit di lengan, lalu tunggu sekitar 15 menit. Menurut Popmama, ini untuk melihat apakah warnanya berubah (teroksidasi) sebelum dipakai di wajah.
  2. Perhatikan hasilnya setelah menyatu dengan kulit, bukan hanya saat baru dioles.
  3. Jangan terburu-buru memutuskan. Kalau ragu antara dua shade, coba keduanya dan bandingkan.

Memilih Concealer yang Aman untuk Kulit Berjerawat

Untuk kulit berjerawat, warna yang pas belum cukup. Concealer juga perlu aman untuk kulit agar tidak memicu jerawat baru. Berdasarkan panduan makeup dari American Academy of Dermatology (AAD):

  • Cek label. Pilih produk berlabel oil-free, non-comedogenic, atau won’t clog pores.
  • Waspadai acne cosmetica. Concealer, foundation, dan blush dapat memicu jerawat pada sebagian orang. Hentikan produk yang membuat jerawatmu muncul, dan aplikasikan dengan sentuhan ringan.
  • Bersihkan makeup sebelum tidur, termasuk makeup mata, dengan pembersih bebas minyak. Lanjutkan dengan mencuci muka secara lembut tanpa menggosok.
  • Cuci kuas makeup seminggu sekali dan jangan dipinjamkan, karena bakteri, sel kulit mati, dan minyak bisa berpindah ke kulit.
  • Oleskan obat jerawat lebih dulu bila kamu memakai makeup bersama obat jerawat.

Kalau jerawatmu memburuk setelah memakai makeup, periksakan ke dokter kulit, karena penyebab jerawat bisa lebih dari satu.

Pilih Shade CorrecTone™ Sesuai Warna Kulitmu

CorrecTone™ Spot Serum Concealer dari Nurilab adalah concealer 2 in 1 yang dikembangkan bersama dermatolog Korea dan Indonesia. Menurut Nurilab, kandungannya niacinamide 5%, encapsulated salicylic acid 1%, dan allantoin 0,5%. Produk ini berlabel non-comedogenic dan non-acnegenic, dermatologically tested, serta cocok untuk kulit sensitif dan berjerawat. Cara pakainya: kocok botol, lalu oleskan cairan langsung pada bekas jerawat dengan aplikator dan ratakan.

Tersedia lima shade. Cocokkan dengan kondisi kulitmu:

  • 08 Cool: untuk kulit putih dengan undertone cool.
  • 12 Ivory: untuk kulit putih cenderung kuning langsat dengan undertone warm.
  • 16 Neutral: untuk kulit kuning langsat cenderung medium dengan undertone neutral.
  • 20 Sand: untuk kulit sawo matang cenderung gelap (tan) dengan undertone warm to golden warm.
  • 24 Warm: untuk kulit tan dengan undertone warm.

Menurut Nurilab, produk ini dapat menutup jerawat dan bekasnya dalam 5 detik sekaligus membantu merawat bekas jerawat. Dalam uji klinis Nurilab pada subjek Indonesia di laboratorium fasilitas produksi, noda gelap (PIH) turun 12% dan noda merah (PIE) turun 22% dalam 14 hari. Hasil dapat berbeda pada tiap orang.

Sebagai pendamping, bersihkan wajah dengan 3X Defense Gentle Cleansing Gel dan lindungi bekas jerawat dengan sunscreen seperti Hy Glow, Bye UV! atau Hy Matte, Bye UV!.

CorrecTone tersedia di nurilab.id, Shopee Mall, TikTok Shop, dan Lazada Mall. Setiap pembelian disertai akses konsultasi dengan dermatolog Nurilab, dan harga terbaru bisa dicek di toko resmi. Ingat, concealer menutup tampilan, bukan menggantikan perawatan. Jika jerawat terasa nyeri atau tidak membaik, periksakan ke dokter kulit.

Disclaimer

Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan atau saran dokter. Klaim hasil produk Nurilab berasal dari uji internal Nurilab pada jumlah subjek terbatas, sesuai halaman produk resmi saat artikel ini disusun, dan hasil dapat berbeda pada setiap orang. Pilihan shade dapat berbeda tergantung kondisi kulit dan pencahayaan, jadi coba dulu sebelum memakainya secara luas.

Perbedaan Bekas Jerawat PIH vs PIE dan Cara Merawatnya

Perbedaan Bekas Jerawat PIH vs PIE dan Cara Merawatnya

Jerawatnya sudah kempis, tapi bekasnya masih tertinggal. Ada yang tampak gelap, ada juga yang merah, dan kamu mungkin bingung kenapa warnanya tidak sama. Bekas yang gelap disebut PIH dan yang merah disebut PIE. Keduanya bukan bekas luka, tetapi cara merawatnya berbeda. Yuk, kenali dulu apa itu PIH dan PIE, lalu lanjut ke cara merawat masing-masing.

Apa Itu Bekas Jerawat PIH dan PIE?

PIH (post-inflammatory hyperpigmentation) adalah noda cokelat atau gelap yang tertinggal setelah jerawat. PIE (post-inflammatory erythema) adalah noda kemerahan yang tertinggal setelah jerawat. Keduanya berbeda dengan bekas luka karena permukaan kulitnya biasanya masih rata.

  • PIH: bercak cokelat atau gelap.
  • PIE: bercak merah atau pink.

Menurut American Academy of Dermatology (AAD), bercak datar berwarna setelah jerawat biasanya adalah PIH, bukan bekas luka. Keduanya bisa muncul bersamaan di wajah yang sama.

Bekas Jerawat PIH: Noda Gelap Setelah Jerawat

PIH adalah jenis bekas yang paling sering dikeluhkan. Tiga hal berikut menjelaskan kenapa muncul, cara merawatnya, dan berapa lama memudarnya.

Kenapa PIH Muncul

Menurut AAD, jerawat dapat memicu produksi pigmen berlebih saat kulit sembuh, sehingga muncul noda gelap. Alodokter menambahkan bahwa memencet atau memecahkan jerawat bisa memperpanjang peradangan dan memperburuk bekasnya. Paparan sinar matahari juga dapat membuat noda makin gelap.

Cara Merawat PIH

Beberapa langkah yang bisa kamu lakukan:

  • Tangani jerawatnya dulu. Noda biasanya mulai memudar setelah jerawat terkendali.
  • Pakai produk yang lembut, misalnya berlabel untuk kulit sensitif.
  • Pakai sunscreen setiap hari. Pilih SPF 30 ke atas, lalu aplikasikan ulang bila berkeringat atau lama di luar ruangan.
  • Hindari matahari terik sekitar pukul 10.00 sampai 14.00, dan gunakan topi bertepi lebar.
  • Konsultasikan bahan aktif. AAD menyebut azelaic acid, glycolic acid, kojic acid, retinoid, dan vitamin C dapat membantu memudarkan noda. Alodokter menyebut niacinamide dan AHA. Sebagian bahan, seperti hydroquinone dan azelaic acid, sebaiknya dipakai di bawah pengawasan dokter.

Hindari produk pemutih tanpa izin edar. AAD mengingatkan sebagian produk semacam itu ditemukan mengandung steroid atau merkuri yang tidak dicantumkan di label. Pilih produk yang terdaftar resmi di BPOM.

Berapa Lama PIH Memudar

Lama memudarnya berbeda tiap orang. Menurut AAD, noda yang hanya beberapa tingkat lebih gelap dari warna kulit umumnya memudar dalam sekitar 6 sampai 12 bulan. Noda yang lebih dalam, yang tampak kebiruan atau abu-abu, bisa butuh waktu bertahun-tahun. Alodokter menyebut kisaran 3 bulan sampai 2 tahun bila tidak dirawat. Perawatan yang konsisten dapat membantu prosesnya.

Catatan Nurilab: Triple-B Serum mengandung 10% triple vitamin B (niacinamide 5%, panthenol 5%, dan vitamin B12). Menurut Nurilab, serum ini membantu mencerahkan, meratakan warna kulit, dan menyamarkan tampilan PIH dan PIE. Pakai 1 sampai 2 pump pada wajah yang sudah bersih, dua kali sehari.

Bekas Jerawat PIE: Noda Merah Setelah Jerawat

PIE sering dikira PIH padahal penanganannya berbeda. Berikut cara membedakannya dan merawatnya.

Ciri PIE dan Bedanya dengan PIH

Cara paling mudah membedakannya adalah dari warna:

  • PIE tampak merah atau pink.
  • PIH tampak cokelat atau gelap.
  • Keduanya bisa muncul bersamaan, jadi satu wajah bisa punya dua jenis bekas.

Kalau kamu ragu bekasmu PIH atau PIE, dokter kulit bisa membantu mengenalinya.

Cara Merawat PIE

Prinsip dasarnya sama dengan merawat jerawat: tangani jerawat aktif, jangan memencet, lindungi kulit dari matahari, dan pakai produk yang lembut. Kulit yang teriritasi bisa memperpanjang kemerahan, jadi hindari menggosok atau memakai terlalu banyak produk sekaligus.

Soal bahan aktif, sebuah uji klinis acak yang dimuat di Dermatology and Therapy (Mei 2024) melibatkan 72 pasien jerawat ringan sampai sedang. Pasien yang memakai azelaic acid 15% gel dua kali sehari selama 12 minggu menunjukkan penurunan lesi PIE yang lebih besar dibanding kelompok plasebo pada minggu ke-8 dan ke-12. Ini hasil studi, bukan anjuran memakai sendiri. Obat dengan kadar seperti itu perlu dibicarakan dengan dokter kulit.

Catatan Nurilab: CorrecTone™ Spot Serum Concealer adalah concealer 2 in 1. Menurut Nurilab, produk ini menutup jerawat dan bekasnya serta membantu menyamarkan PIH dan PIE, dengan niacinamide 5%, encapsulated salicylic acid 1%, dan allantoin 0,5%. Dalam uji klinis Nurilab pada subjek Indonesia di laboratorium fasilitas produksi, PIH turun 12% dan PIE turun 22% dalam 14 hari. Hasil dapat berbeda pada tiap orang.

Perbedaan PIH dan PIE: Ringkasan Cepat

Aspek PIH PIE
Warna Cokelat atau gelap Merah atau pink
Bentuk Bercak datar, bukan bekas luka Bercak datar, bukan bekas luka
Perawatan dasar Tangani jerawat, pakai sunscreen setiap hari, produk lembut Tangani jerawat, jangan memencet, produk lembut, lindungi dari matahari
Bahan yang dibahas sumber Azelaic acid, glycolic acid, kojic acid, retinoid, vitamin C, niacinamide Azelaic acid (dari uji klinis), konsultasikan ke dokter
Perkiraan waktu Sekitar 6 sampai 12 bulan untuk noda ringan Berbeda tiap orang
Kapan ke dokter Tidak memudar, sangat gelap, atau sebelum peeling dan laser Tidak membaik atau ragu jenis bekasnya

Bekas Jerawat yang Bukan PIH atau PIE: Bekas Luka Cekung

Tidak semua bekas jerawat berupa noda. Bekas luka membuat permukaan kulit menjadi tidak rata atau cekung. Menurut AAD, jerawat yang dalam dan kebiasaan memencet meningkatkan risiko bekas luka. AAD juga menyebut bekas luka jarang hilang sepenuhnya dengan sendirinya.

Bila kamu punya bekas luka cekung, dokter kulit dapat membantu mengurangi tampilannya. Produk skincare yang dijual bebas umumnya ditujukan untuk noda, bukan untuk mengembalikan permukaan kulit yang cekung.

Cara Mencegah Bekas Jerawat Muncul

Pencegahan bekas dimulai sejak jerawat muncul:

  • Jangan memencet, mengorek, atau menyentuh jerawat. Menurut AAD, ini meningkatkan peradangan dan risiko bekas, infeksi, serta perubahan warna kulit.
  • Tangani jerawat sejak awal supaya tidak berkembang menjadi jerawat yang dalam.
  • Pakai sunscreen setiap hari agar noda tidak makin gelap.
  • Cuci muka dengan lembut, maksimal dua kali sehari tanpa scrub kasar, sesuai panduan AAD tentang jerawat.

Kapan Harus ke Dokter Kulit?

Konsultasikan ke dokter kulit bila:

  • Bekas tidak memudar meski sudah dirawat dengan konsisten.
  • Bekasnya sangat gelap.
  • Kamu punya bekas luka cekung.
  • Kamu ingin mencoba peeling atau laser.

Menurut AAD, dokter dapat meresepkan perawatan yang lebih kuat dan menggabungkannya dengan aman bila produk bebas tidak membuahkan hasil. Alodokter menyebut prosedur seperti peeling dan laser sebagai pilihan untuk bekas yang membandel. Bila kamu sedang hamil atau menyusui, bicarakan dulu dengan dokter sebelum memakai bahan aktif atau menjalani prosedur.

Rutinitas Sederhana untuk Merawat PIH dan PIE

Rutinitas dasar yang bisa kamu jalani:

  1. Bersihkan wajah dengan pembersih yang lembut.
  2. Pakai serum perawatan bekas jerawat, misalnya Triple-B Serum, pagi dan malam.
  3. Tutup dengan sunscreen setiap pagi.
  4. Kalau bekas masih terlihat dan kamu ingin menutupnya, pakai CorrecTone™ Spot Serum Concealer.

Untuk langkah perawatan bekas, Nurilab punya dua produk yang memang dibuat untuk PIH dan PIE. Triple-B Serum cocok sebagai perawatan harian karena memakai niacinamide 5%, panthenol (vitamin B5) 5%, dan vitamin B12. Dalam uji in vivo selama 4 minggu di laboratorium pihak ketiga terakreditasi, Nurilab melaporkan penurunan PIE 26% dan PIH 12%.

Sementara itu, CorrecTone™ Spot Serum Concealer membantu kamu yang butuh hasil langsung terlihat. Concealer 2 in 1 ini menutup bekas sambil membantu menyamarkan PIH dan PIE, dan tersedia dalam 5 shade supaya mudah disesuaikan dengan warna kulit. Hasil dapat berbeda pada tiap orang.

Untuk sunscreen, ada Hy Glow, Bye UV! dari Nurilab dengan SPF 50 PA++++. Menurut Nurilab, produk ini non-comedogenic dan cocok untuk kulit kering dan sensitif, dan dalam uji in vivo pada 20 panelis selama 4 minggu, skin barrier meningkat 13%. Untuk kulit berminyak dan berjerawat, tersedia varian Hy Matte, Bye UV!.

Disclaimer

Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan atau saran dokter. Klaim hasil produk Nurilab berasal dari uji internal Nurilab pada jumlah subjek terbatas, sesuai halaman produk resmi saat artikel ini disusun, dan hasil dapat berbeda pada setiap orang. Produk Nurilab tidak menggantikan pengobatan medis dan tidak menjamin bekas jerawat memudar dalam waktu tertentu.

Jerawat yang Tak Kunjung Sembuh: Penyebab dan Solusinya

Jerawat yang Tak Kunjung Sembuh: Penyebab dan Solusinya

Sudah ganti cleanser, coba serum baru, beli obat totol, tapi jerawat masih saja ada, bahkan rasanya tak ada habisnya. Jerawat yang terasa tak kunjung sembuh biasanya bukan karena satu hal saja. Sering kali ini gabungan dari perawatan yang belum diberi cukup waktu, kebiasaan yang terus memicu jerawat, dan kadang jenis jerawat yang memang butuh penanganan dokter. Yuk, cek dulu kesalahan perawatan yang paling sering terjadi, lalu lanjut ke pemicu lain dan rencana perawatannya.

Kenapa Jerawat Bisa Terasa Tak Kunjung Sembuh?

Jerawat jarang sembuh dalam semalam. Menurut American Academy of Dermatology (AAD), sebuah perawatan sebaiknya diberi waktu minimal 4 minggu. Perbaikan biasanya mulai terlihat dalam 4 sampai 6 minggu, dan jerawat bisa butuh 2 sampai 3 bulan atau lebih untuk benar-benar bersih.

Jadi, jerawat yang terasa tak kunjung sembuh sering kali punya salah satu dari tiga penyebab:

  • Perawatan belum tepat atau belum diberi waktu.
  • Ada kebiasaan atau pemicu yang terus berlangsung, seperti produk, gesekan, hormon, atau stres.
  • Jenis jerawatnya butuh dokter, misalnya jerawat dalam yang meradang.

Penjelasan tentang jerawat dari Alodokter juga sejalan: pemicu yang terus ada membuat jerawat bisa bertahan atau kambuh.

Kesalahan Perawatan yang Membuat Jerawat Sulit Sembuh

Sebelum menyalahkan kulit, cek dulu cara kamu merawatnya. Empat kesalahan berikut paling sering disebut sumber kesehatan.

Terlalu Sering Ganti Produk

Berganti produk setiap beberapa hari bisa mengiritasi kulit dan memicu jerawat baru, menurut AAD. Kulit butuh waktu untuk beradaptasi, dan kamu butuh waktu untuk menilai apakah sebuah produk bekerja. Beri satu perawatan minimal 4 minggu sebelum memutuskan cocok atau tidak.

Terlalu Banyak Produk atau Terlalu Keras ke Kulit

Beberapa kebiasaan yang justru membuat kulit makin stres:

  • Memakai terlalu banyak produk sekaligus. AAD menyarankan cukup 1 atau 2 produk dengan bahan aktif yang berbeda.
  • Mencuci muka terlalu sering. Cuci muka sekitar dua kali sehari dan setelah berkeringat sudah cukup. Lebih dari itu bisa mengiritasi.
  • Menggosok atau scrub kulit. Alodokter menyarankan membersihkan wajah tanpa scrub, spons, atau kain kasar.

Obat Hanya Dioles pada Jerawat yang Terlihat

AAD menyarankan mengoleskan obat jerawat secara tipis pada seluruh area kulit yang rentan berjerawat, bukan hanya pada jerawat yang sudah muncul. Ikuti juga petunjuk di label, dan bila dokter memberi resep, pakai seluruh rencana yang diberikan, bukan sebagian. Obat totol punya fungsi berbeda dan tidak menggantikan perawatan menyeluruh bila jerawatmu tersebar.

Berhenti Terlalu Cepat atau Memencet Jerawat

Setelah kulit mulai bersih, AAD menyarankan tetap memakai perawatan yang cocok untuk membantu mencegah jerawat baru. Hindari juga menyentuh, mengorek, atau memencet jerawat karena bisa memperburuk jerawat dan berpotensi meninggalkan bekas.

Kebiasaan dan Faktor Lain yang Memicu Jerawat Terus Muncul

Kalau perawatanmu sudah benar tetapi jerawat tetap muncul, saatnya cek pemicu di luar skincare.

Produk Kulit, Makeup, dan Gesekan

AAD menyarankan memilih produk berlabel “non-comedogenic”, “non-acnegenic”, atau “oil-free”. Namun label ini tidak menjamin produk cocok untuk semua orang, jadi kadang kamu perlu mencoba beberapa pilihan. Alodokter juga menyebut beberapa pemicu lain:

  • Kosmetik berminyak yang menyumbat pori.
  • Gesekan dari topi, ikat kepala, atau pakaian ketat.
  • Sarung bantal dan sprei yang jarang diganti.
  • Makeup yang tidak dibersihkan sebelum tidur.

Hormon, Stres, dan Pola Hidup

Beberapa faktor dari dalam tubuh juga dapat berkontribusi pada jerawat:

  • Perubahan hormon, misalnya saat pubertas, menstruasi, kehamilan, atau karena kontrasepsi tertentu.
  • Faktor genetik dan kondisi tertentu seperti PCOS.
  • Stres berlebih, yang menurut Alodokter dapat memperparah jerawat yang sudah ada.
  • Pola makan tinggi gula atau lemak, yang disebut dapat berperan.

Ini sifatnya faktor yang dapat berkontribusi, bukan kepastian. Kalau kamu curiga ada gangguan hormon, periksakan ke dokter, bukan menebak sendiri.

Obat Tertentu

Menurut Alodokter, beberapa obat dapat memicu jerawat, misalnya kortikosteroid, litium, obat antikejang, dan jenis pil KB tertentu. Jangan menghentikan obat dari dokter tanpa bertanya lebih dulu. Kalau kamu curiga obat yang kamu pakai berpengaruh, diskusikan dengan dokter yang meresepkannya.

Jerawat Mendem atau Berulang: Mungkin Perlu Dokter

Tidak semua jerawat bisa ditangani sendiri. Menurut AAD, temui dokter kulit bila:

  • Kamu punya kista atau nodul yang dapat meninggalkan bekas.
  • Perawatan yang dijual bebas belum membersihkan jerawatmu.
  • Jerawat tetap mengganggu setelah kamu mencoba langkah-langkah di atas.

Alodokter menambahkan beberapa tanda lain: jerawat yang sering meradang, papula atau pustula yang tidak membaik dengan perawatan sederhana, serta jerawat parah yang muncul tiba-tiba pada orang dewasa atau disertai gangguan menstruasi dan pertumbuhan rambut berlebih. Kondisi terakhir bisa menandakan masalah kesehatan lain.

Dokter bisa memberi penanganan yang lebih sesuai, misalnya obat oles resep, antibiotik, pil KB untuk kasus yang dipicu hormon, spironolakton, isotretinoin untuk kasus berat, suntikan kortikosteroid, atau prosedur seperti peeling dan laser. Isotretinoin tidak boleh dipakai ibu hamil atau yang merencanakan kehamilan, dan hanya di bawah pengawasan dokter. Untuk jerawat dalam yang nyeri, baca juga artikel kami tentang jerawat mendem di pipi.

Rencana Perawatan 6 Minggu yang Realistis

Rencana ini mengikuti saran AAD untuk memberi perawatan waktu dan konsisten. Produk Nurilab yang disebut di tiap fase hanya pendamping rutinitas, bukan pengganti pemeriksaan dokter. Hasil tiap orang bisa berbeda.

Minggu 1: Rapikan Dasar Rutinitas

Mulai dari yang paling sederhana: cuci muka lembut dua kali sehari, pakai pelembap dan sunscreen non-comedogenic, serta hentikan scrub dan kebiasaan memencet. Untuk pembersih, 3X Defense Gentle Cleansing Gel dari Nurilab bisa dipertimbangkan. Menurut Nurilab, produk ini mengandung centella asiatica 5% dan ekstrak teh hijau 3%, dan dalam uji konsumen pada 28 subjek selama 7 hari, 86% setuju produk ini menenangkan peradangan kulit. Pakai pada wajah yang sudah dibasahi, pijat lembut, lalu bilas.

Untuk pelembap, ada 5% Peptamide AI™ Acne Calming Moisturizer. Menurut Nurilab, produk ini non-comedogenic dan non-acnegenic. Dalam uji klinis Nurilab pada 10 subjek, skin barrier disebut meningkat hingga 52% dan kelembapan terjaga hingga 72 jam.

Minggu 2 sampai 4: Mulai Satu Perawatan Jerawat dan Beri Waktu

Mulai satu perawatan saja dan jangan diganti selama minimal 4 minggu. Untuk jerawat yang sudah muncul di permukaan, Acne Conclearing™ Spot Drying Lotion bisa ditotolkan langsung. Menurut Nurilab, kandungannya salicylic acid 2%, sulfur 1%, zinc oxide + centella asiatica. Uji 14 hari dengan pemakaian dua kali sehari menunjukkan penurunan papula dan pustula, bukan jerawat dalam. Ingat, obat totol bukan pengganti perawatan menyeluruh bila jerawatmu tersebar.

Minggu 4 sampai 6: Evaluasi

Setelah sekitar 4 sampai 6 minggu, nilai hasilnya:

  • Kalau ada perbaikan, lanjutkan perawatan yang sama.
  • Kalau belum ada perbaikan, AAD menyarankan menambah satu produk dengan bahan aktif berbeda, dengan batas 1 atau 2 produk sekaligus. Atau, konsultasikan ke dokter kulit.

Setelah Jerawat Reda: Rawat Bekasnya

Noda gelap atau kemerahan sisa jerawat butuh waktu. Menurut AAD, noda yang hanya beberapa tingkat lebih gelap dari warna kulit umumnya memudar dalam sekitar 6 sampai 12 bulan, dan sunscreen setiap hari membantu agar noda tidak makin gelap.

Untuk tahap ini, Triple-B Serum menurut Nurilab membantu mencerahkan dan menyamarkan tampilan bekas jerawat gelap maupun kemerahan. Kalau butuh penutup sekaligus perawatan, CorrecTone™ Spot Serum Concealer dalam uji klinis Nurilab selama 14 hari melaporkan penurunan noda gelap 12% dan noda merah 22%.

Jangan lupa sunscreen: Hy Glow, Bye UV! (SPF 50 PA++++, untuk kulit kering dan sensitif) atau Hy Matte, Bye UV! untuk kulit berminyak dan berjerawat.

Penutup

Setiap pembelian produk Nurilab disertai akses konsultasi dengan dermatolog, jadi kamu bisa menanyakan kecocokan produk dengan kondisi kulitmu. Produknya tersedia di nurilab.id, Shopee Mall, TikTok Shop, atau Lazada Mall. Kalau jerawatmu tidak membaik setelah perawatan yang konsisten, konsultasikan ke dokter kulit.

Disclaimer

Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan atau saran dokter. Klaim hasil produk Nurilab berasal dari uji internal dan uji konsumen Nurilab pada jumlah subjek terbatas, sesuai halaman produk resmi saat artikel ini disusun, dan hasil dapat berbeda pada setiap orang. Produk Nurilab tidak menggantikan pengobatan medis dan tidak menjamin jerawat sembuh dalam waktu tertentu.

Kenali Maskne: Jerawatan Karena Sering Pakai Masker

Kenali Maskne: Jerawatan Karena Sering Pakai Masker

Pipi, dagu, dan area sekitar mulut tiba-tiba berjerawat setelah berjam-jam memakai masker? Kamu tidak sendirian. Kondisi ini cukup sering dialami dan dikenal dengan sebutan maskne.

Maskne adalah jerawat atau iritasi yang muncul di area wajah yang tertutup masker. Penyebabnya bukan satu hal saja, tetapi gabungan gesekan, panas, lembap, dan kulit yang tidak sempat bersih. Di artikel ini, kamu akan tahu penyebabnya, cara mencegahnya, dan cara merawat kulit agar tidak mudah berjerawat.

Baca juga: Penyebab Jerawat Mendem di Pipi dan Cara Mengatasinya

Apa Itu Maskne dan Kenapa Bisa Muncul?

Nama maskne berasal dari gabungan kata mask dan acne. Menurut Alodokter, maskne muncul di area yang tertutup masker, seperti pipi, dagu, hidung, dan sekitar mulut. Secara medis, jerawat jenis ini berkaitan dengan acne mechanica, yaitu jerawat yang dipicu gesekan atau tekanan pada kulit.

Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari komedo, bintik merah, sampai benjolan yang meradang. Kulit juga bisa terasa gatal atau perih. Karena itu, maskne tidak selalu sama dengan jerawat hormonal biasa.

Penyebab Maskne

Ada tiga hal utama yang membuat kulit di balik masker lebih mudah bermasalah. Ketiganya sering terjadi bersamaan, sehingga efeknya terasa lebih kuat.

Gesekan dan Tekanan dari Masker

Saat kamu bicara, bergerak, atau menyesuaikan masker, bahan masker bergesekan dengan kulit. Gesekan yang berulang membuat kulit iritasi dan pori-pori lebih mudah tersumbat. Menurut Yale Medicine, tekanan dan gesekan ini termasuk pemicu utama jerawat akibat masker.

Panas, Lembap, dan Napas yang Terperangkap

Napas dan keringat membuat area di balik masker menjadi hangat dan lembap. Kondisi ini membuat minyak dan keringat mudah menumpuk di permukaan kulit. Campuran tersebut dapat menyumbat pori dan memicu jerawat, seperti dijelaskan juga oleh pakar kulit dari UGM.

Masker Kotor, Kulit Tidak Dibersihkan, dan Produk yang Menyumbat

Masker yang dipakai berulang tanpa dicuci bisa menyimpan minyak, keringat, dan kotoran. Produk yang terlalu berat atau makeup tebal di bawah masker juga dapat menambah risiko pori tersumbat. Jadi, bukan hanya maskernya, tetapi juga apa yang menempel di kulit sepanjang hari.

Siapa yang Lebih Berisiko Kena Maskne?

Siapa pun bisa mengalaminya, tetapi risikonya lebih besar pada orang yang berkulit berminyak atau memang mudah berjerawat. Orang yang memakai masker berjam-jam, misalnya tenaga kesehatan, pekerja lapangan, atau pengendara motor, juga lebih rentan. Semakin lama kulit tertutup dan berkeringat, semakin besar peluang pori tersumbat.

Baca juga: Tipe Jerawat Berdasarkan Letak dan Cara Mengatasinya

Cara Mencegah Maskne

Mencegah biasanya lebih mudah daripada mengatasi jerawat yang sudah meradang. Mulai dari pilihan masker sampai persiapan kulit, berikut hal-hal yang bisa kamu lakukan.

Pilih Masker yang Nyaman dan Pas

Pilih masker dengan bahan lembut dan mudah menyerap keringat. Ukurannya sebaiknya pas, tidak terlalu longgar sampai sering bergeser, tetapi juga tidak menekan kulit. Untuk jenis masker tertentu yang dibutuhkan karena kondisi kesehatan atau pekerjaan, tetap ikuti anjuran tenaga medis.

Ganti dan Cuci Masker Secara Rutin

Masker kain sebaiknya dicuci setelah dipakai. Masker sekali pakai tidak perlu dipakai ulang. Ganti masker juga jika sudah terasa lembap atau kotor, karena kondisi ini membuat kulit lebih mudah iritasi.

Persiapkan Kulit Sebelum Memakai Masker

Pastikan wajah bersih sebelum memakai masker. Setelah itu, gunakan pelembap tipis agar kulit lebih terlindungi dari gesekan. Hindari produk yang terlalu berat dan makeup tebal di area yang akan tertutup masker.

Tips Merawat Wajah agar Tidak Mudah Berjerawat karena Masker

Selain mencegah, perawatan harian yang tepat membantu kulit tetap seimbang. Berikut empat kebiasaan sederhana yang bisa kamu mulai.

Cuci Muka dengan Lembut

Cuci muka setelah melepas masker, terutama kalau kamu berkeringat. Gunakan pembersih yang lembut dan jangan menggosok wajah terlalu keras. Soal suhu air, hindari air yang terlalu panas karena bisa membuat kulit makin iritasi.

Jaga Kelembapan dengan Pelembap

Gesekan masker dapat membuat skin barrier lebih rentan. Pelembap yang ringan membantu kulit tetap lembap tanpa terasa berat. Kulit yang kelembapannya terjaga cenderung lebih nyaman dipakai bermasker.

Tetap Pakai Tabir Surya

Masker tidak menggantikan tabir surya. Bagian wajah yang terbuka, seperti dahi dan area sekitar mata, tetap perlu perlindungan dari sinar UV saat kamu beraktivitas di luar ruangan.

Minimalkan Makeup dan Jangan Memencet Jerawat

Kurangi penggunaan makeup di area yang tertutup masker, apalagi yang bertekstur tebal. Jangan juga memencet atau menggaruk jerawat, karena bisa memperparah peradangan dan meninggalkan bekas.

Kapan Maskne Perlu Dicek ke Dokter?

Maskne ringan biasanya bisa membaik dengan perawatan dasar yang konsisten. Namun, ada kondisi yang sebaiknya kamu konsultasikan ke dokter kulit:

  • Jerawat meradang, nyeri, atau makin banyak.
  • Tidak membaik setelah beberapa waktu dirawat dengan rutin.
  • Muncul gejala iritasi atau alergi, seperti ruam, gatal hebat, atau kulit melepuh.

Penanganan maskne bisa berbeda dari jerawat biasa, jadi penilaian dokter membantu menentukan langkah yang paling sesuai untuk kulitmu. Hindari mengobati sendiri tanpa arahan, terutama kalau kulit sudah terasa perih.

Alur Harian: Sebelum, Saat, dan Sesudah Memakai Masker

Supaya mudah diingat, kamu bisa membagi perawatan jadi tiga momen sepanjang hari.

Sebelum memakai masker. Setelah wajah bersih, pakai pelembap seperti Nurilab 5% Peptamide AI Acne Calming Moisturizer. Menurut informasi di situs resmi Nurilab, produk ini dikembangkan untuk membantu menjaga skin barrier kulit berjerawat. Kalau kamu beraktivitas di luar, lanjutkan dengan tabir surya seperti Hy Glow, Bye UV! atau Hy Matte, Bye UV! sesuai preferensi tampilan kulitmu.

Saat memakai masker. Di momen ini kamu tidak perlu produk apa pun. Cukup ganti masker saat terasa lembap dan usahakan tidak sering memegang atau menggaruk wajah.

Sesudah melepas masker. Bersihkan wajah dengan Nurilab 3x Defense Gentle Cleansing Gel untuk mengangkat minyak, keringat, dan kotoran, lalu lanjutkan dengan pelembap. Kalau jerawat sebelumnya sudah meninggalkan bekas, Nurilab menyediakan opsi seperti Triple-B Serum atau CorrecTone Spot Serum Concealer yang bisa kamu pelajari lebih lanjut di halaman produknya.

Kamu bisa melihat rangkaian produk lengkapnya di situs resmi Nurilab dan menyesuaikannya dengan kondisi kulitmu.

Disclaimer

Informasi produk Nurilab pada artikel ini mengacu pada halaman resmi nurilab.id dan bersifat edukatif. Hasil perawatan dapat berbeda pada setiap orang, dan artikel ini bukan pengganti konsultasi dengan dokter. Jika jerawat tidak membaik atau kulit terasa iritasi, konsultasikan dengan dokter kulit.