Sudah rajin cuci muka, tapi jerawat tetap saja muncul. Wajar kalau kamu mulai bertanya, apakah ada bakteri yang harus dibasmi? Jawabannya: bakteri seperti P. acnes (kini disebut Cutibacterium acnes) memang berperan dalam jerawat, tetapi bakteri ini hidup alami di kulit dan bukan satu-satunya penyebab. Yuk, kenali dulu peran bakteri dalam jerawat, lalu lanjut ke jenisnya dan cara menanganinya.

Apakah Bakteri Penyebab Jerawat?

Bakteri memang berperan dalam jerawat, tetapi bukan penyebab satu-satunya. Menurut Alodokter, jerawat berawal dari pori yang tersumbat minyak dan sel kulit mati, lalu bakteri P. acnes dapat berkembang dan memicu jerawat yang merah, bengkak, atau bernanah.

American Academy of Dermatology (AAD) juga menegaskan bahwa jerawat muncul ketika pori tersumbat, dan hormon serta faktor keluarga ikut berperan. Jadi ada beberapa faktor yang bekerja bersama:

  • Pori tersumbat oleh minyak dan sel kulit mati.
  • Hormon dan genetik, yang memengaruhi seberapa mudah kulit berjerawat.
  • Bakteri yang berkembang di pori yang sudah tersumbat.

Jenis Bakteri yang Berkaitan dengan Jerawat

Kulit dihuni banyak mikroba, dan sebagian besar tidak berbahaya. Berikut tiga bakteri yang paling sering dikaitkan dengan jerawat.

Cutibacterium acnes (P. acnes)

Ini adalah bakteri yang hidup alami di kulit dan paling sering dikaitkan dengan jerawat. Dulu namanya Propionibacterium acnes, sehingga banyak yang masih menyebutnya P. acnes. Di pori yang tersumbat minyak dan sel kulit mati, bakteri ini dapat berkembang dan memicu peradangan. Penjelasan ini sejalan dengan tinjauan sistematis di Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology (2025) tentang hubungan jerawat dan mikrobioma kulit.

Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus

Selain C. acnes, tinjauan tersebut menemukan delapan studi yang mengaitkan C. acnes, S. aureus, dan S. epidermidis dengan jerawat. Kaitannya bisa berupa pertumbuhan berlebih, peran sebagai penghuni normal kulit, atau ketidakseimbangan mikroba (dysbiosis).

Perlu diingat, ini bentuk keterkaitan, bukan bukti bahwa satu bakteri pasti menyebabkan jerawatmu. Peran tiap bakteri, termasuk S. epidermidis, masih terus diteliti.

Bukan Semua Jerawat Berasal dari Bakteri

Beberapa bintil di wajah tampak seperti jerawat tetapi penyebabnya berbeda. Contohnya dermatitis perioral, yaitu ruam kemerahan di sekitar mulut dengan bintil kecil mirip jerawat yang terasa gatal atau perih. Menurut Alodokter, kondisi ini tidak menular dan bisa dipicu oleh kosmetik atau obat tertentu. Kalau bintil di wajahmu tidak membaik dengan perawatan jerawat biasa, periksakan ke dokter kulit.

Apa yang Membuat Jerawat Mudah Muncul?

Bakteri penyebab jerawat sudah ada di kulit semua orang, jadi pertanyaannya bukan kenapa kamu “terpapar”, melainkan apa yang membuat jerawat muncul. Alodokter juga menyebut jerawat tidak menular.

Berdasarkan AAD dan Alodokter, beberapa faktor yang berperan:

  • Hormon. Saat pubertas, hormon androgen memperbesar kelenjar minyak sehingga produksi minyak meningkat dan pori lebih mudah tersumbat.
  • Genetik. Punya orang tua atau kerabat dengan jerawat dalam meningkatkan risikomu.
  • Produk berminyak. Makeup, skincare, dan produk rambut berminyak seperti pomade dapat memperburuk jerawat.
  • Pola hidup. Kurang tidur dan makanan tertentu dapat memperburuk jerawat.
  • Stres. Stres tidak menyebabkan jerawat, tetapi dapat memperburuknya.
  • Gesekan dan polusi. Alodokter menyebut gesekan dari topi atau pakaian ketat dan polusi sebagai pemicu.

Jerawat yang Dikaitkan dengan Bakteri

Peradangan yang melibatkan bakteri biasanya muncul dalam bentuk jerawat yang meradang:

  • Jerawat merah dan bengkak, yang sering terasa nyeri saat disentuh.
  • Jerawat bernanah, yaitu benjolan merah dengan bagian putih berisi nanah.
  • Jerawat dalam, berupa benjolan keras di bawah kulit. Penjelasannya bisa kamu baca di panduan AAD tentang jerawat dalam.

Komedo, yaitu sumbatan tanpa peradangan yang jelas, bisa muncul lebih awal sebelum jerawat meradang. Namun tidak semua komedo berkembang menjadi jerawat meradang.

Cara Mengatasi Jerawat yang Berkaitan dengan Bakteri

Tujuan perawatan bukan membasmi semua bakteri, karena bakteri hidup alami di kulit. Tujuannya meredakan peradangan dan mencegah pori tersumbat tanpa merusak kulit.

Obat dan Bahan yang Umum Dipakai

Menurut AAD, beberapa bahan yang umum untuk jerawat:

  • Benzoyl peroxide: mengurangi bakteri P. acnes.
  • Retinoid seperti adapalene: membantu membuka pori yang tersumbat dan mengurangi minyak.
  • Salicylic acid: membantu meredakan peradangan dan membuka pori.

AAD menyarankan memakai 1 atau 2 produk dengan bahan aktif berbeda, dan memberi waktu minimal 4 minggu sebelum menilai hasilnya. Dalam tinjauan JEADV 2025, benzoyl peroxide menjadi satu-satunya perawatan yang secara signifikan mengubah keragaman mikroba kulit dalam analisis gabungan studi.

Untuk jerawat yang parah, banyak, atau berulang, dokter bisa meresepkan obat yang lebih kuat. Alodokter menyebut antibiotik oral dan isotretinoin sebagai contoh, yang hanya boleh dipakai atas anjuran dokter.

Cara Merawat Kulit Sehari-Hari

Kebiasaan sederhana ini membantu menjaga kulit tetap seimbang:

  • Cuci muka dua kali sehari dan setelah berkeringat dengan pembersih yang lembut, seperti saran AAD.
  • Jangan scrub atau menggosok kulit terlalu keras.
  • Pilih produk non-comedogenic yang tidak menyumbat pori.
  • Jangan memencet jerawat, karena memperlambat penyembuhan dan meningkatkan risiko bekas.
  • Pakai pelembap dan sunscreen setiap hari.
  • Bersihkan sarung bantal dan makeup secara rutin.

Hati-Hati dengan Antibakteri Berlebihan dan Antibiotik

Jangan membeli antibiotik sendiri tanpa resep dokter. Memakai terlalu banyak produk atau produk yang terlalu keras juga bisa mengiritasi kulit, menurut AAD. Kalau jerawatmu meradang, nyeri, atau tidak membaik, konsultasikan ke dokter kulit.

Kapan Perlu ke Dokter Kulit?

Segera periksakan diri bila:

  • Jerawat tidak membaik dengan perawatan sederhana.
  • Jerawat berupa benjolan dalam atau nodul.
  • Jerawat sering meradang atau mengganggu aktivitas.
  • Jerawat parah muncul tiba-tiba pada usia dewasa, atau disertai gangguan menstruasi dan pertumbuhan rambut berlebih, karena menurut Alodokter ini bisa menandakan masalah kesehatan lain.

Cara Memilih Skincare untuk Kulit Berjerawat: Checklist dan Contoh dari Nurilab

Skincare tidak perlu “membunuh semua bakteri”. Pilih yang lembut, tidak menyumbat pori, dan sesuai kondisi kulitmu. Berikut checklist sederhana, lengkap dengan contoh produk Nurilab sebagai pendamping rutinitas, bukan pengganti dokter. Semua klaim berasal dari halaman produk resmi Nurilab dan hasilnya dapat berbeda pada tiap orang.

1. Pembersih yang lembut. Pembersih sebaiknya tidak membuat kulit terasa ketarik. Contohnya 3X Defense Gentle Cleansing Gel. Menurut Nurilab, produk ini mengandung centella asiatica 5% dan ekstrak teh hijau 3%, serta telah diuji terhadap P. acnes di laboratorium terakreditasi pihak ketiga selama 60 detik. Dalam uji konsumen Nurilab pada 28 subjek selama 7 hari, 86% setuju produk ini menenangkan peradangan kulit.

2. Perawatan titik untuk jerawat yang sudah muncul. Cari produk yang dioles langsung pada jerawat. Contohnya Acne Conclearing™ Spot Drying Lotion, yang menurut Nurilab mengandung salicylic acid 2%, sulfur 1%, zinc oxide + centella asiatica. Dalam uji 14 hari dengan pemakaian dua kali sehari, Nurilab melaporkan penurunan jumlah papula dan pustula, bukan jerawat dalam.

3. Pelembap non-comedogenic. Kulit berjerawat tetap perlu pelembap agar tidak kering dan iritasi. Contohnya 5% Peptamide AI™ Acne Calming Moisturizer. Menurut Nurilab, produk ini non-comedogenic dan non-acnegenic, dan telah diuji penghambatan terhadap P. acnes di laboratorium terakreditasi pihak ketiga. Dalam uji klinis Nurilab pada 10 subjek, skin barrier meningkat hingga 52% dan kelembapan terjaga hingga 72 jam.

4. Sunscreen non-comedogenic. Contohnya Hy Glow, Bye UV! dengan SPF 50 PA++++. Menurut Nurilab, produk ini mengandung ekstrak teh hijau 3% dan centella asiatica 5%. Untuk kulit berminyak dan berjerawat, tersedia varian Hy Matte, Bye UV!.

Setiap pembelian produk Nurilab disertai akses konsultasi dengan dermatolog, dan produknya tersedia di nurilab.id, Shopee Mall, TikTok Shop, serta Lazada Mall. Kalau jerawatmu tidak membaik, periksakan ke dokter kulit.

Disclaimer

Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan atau saran dokter. Klaim hasil produk Nurilab berasal dari uji internal dan uji laboratorium Nurilab pada jumlah subjek terbatas, sesuai halaman produk resmi saat artikel ini disusun, dan hasil dapat berbeda pada setiap orang. Produk Nurilab tidak menggantikan pengobatan medis dan tidak ditujukan untuk membasmi seluruh bakteri di kulit. Bila kamu sedang hamil, menyusui, memiliki kulit sangat sensitif, atau memakai obat dari dokter, konsultasikan dulu sebelum mencoba produk baru, dan hentikan pemakaian jika muncul iritasi.